Seri Sejarah dalam Lini Abad ke XVII -XVIII: BANTEN #8
Tahun 1595, sebanyak 4 armada kapal Belanda dipimpin oleh Cornelis de Houtman selama 14 bulan berlayar, sampai ke Banten tahun 1596. Mereka disambut baik karena ingin bersahabat dan berdagang.
Banten telah menjadi pasar rempah-rempah dari daerah sekitar dan Maluku. Lama-kelamaan muncul ketegangan dengan penguasa Banten karena Belanda ingin memonopoli, sehingga Belanda di usir. Pada 28 November 1598, Belanda datang lagi ke Banten dengan dipimpin oleh Jacob van Neck, Waerwijk, Heemskerck membawa 8 buah kapal. Mereka juga diterima dengan baik oleh Banten karena Banten baru mengalami kerugian dengan Portugis. Selain ke Banten Belanda juga datang ke Tuban dan Maluku. Karena Sultan Ternate sedang bermusushan dengan Portugis dan Spanyol.
Untuk menyaingi dengan perdagangan orang Barat, mak Belanda medirikan VOC tahun 1602. Pada pendirian VOC, hubungan dengan pribumi baik karena sedang bersaing dengan Portugis, terutama penguasa muslim. Sebelumnya, di banten pada tahun 1602 Van Waerwyck mencoba mendapat ijin dagang tapi ditolak. Dia hanya diberi ijin mendirikan satu kantor dan seorang pegawai.
Pada awal abad ke-17 Portugis dan Spayol berada di bawah satu mahkota yaitu Raja Felipe III dari spanyol. Raja ini menugaskan Andrea Fertado de Mendoa untuk berangkat ke utara Jawa dalam rangka menamankan kepentingannya. Tahun 1601 armada Spanyol ini memblokir Baten, sehingga perang dengan Belanda dan kalah. Inggris pada tahun 1602 juga datang ke Banten serta diberi kesempatan mendirikan kantor di sana.
Pada tahun 1603, VOC untuk pertama kali berhasil mendirikan kantor di Banten dengan kepalanya Francois Wittert. Sehingga kadangla Banten menjadi tempat permusuhan antar orang Eropa. Kondisi ini mempengaruhi stablitas internal di Bnaten karena masing-masing Pihak ingin mempengaruhi penguasa. Karena kondisi yang demikian, maka VOC membuat kontrak dengan pangeran Jakarta dan mendirikan kantor dagang tahun 1610. Pada tahun 1603 VOC mengangkat Jan Piterszoon Coen sebagai kepala tata buku atas kantor dagang Banten dan Jakarta. Dialah orang yang merintis perkembangan VOC. Peranan yang dimainkan Jan tersebut membuat Banten dan Jakarta saking bermusuhan. Kondisi ini membuat Mangkubumi Banten ingin memecat pangeran Jakarta.
Kemudian muncul reaksi besar dan timbul peperangan antara VOC dan Banten dalam rangka merebut Jakarta tahun 1618-1619 dari Pangeran Wijayakrama. Sebelumnya Jakarta merupakan bagian dari Banten. Puncaknya perang pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Penguasaan Jakarta oleh VOC juga membuat Mataram tidak senang. Kemudian VOC memfokuskan diri di Jakarta.
Di Banten juga terjadi intervensi VOC. Tahun 1651-1683, pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, beliau mempunyai armada model barat. Pelayarannya aktif di Nusantara. Atas bantuan Inggris, Denmark, dan Cina orang Banten berdagang ke Cina, Persia, India, Siam, Vietnam, Philipina , dan Jepang. Banten adalah musuh VOC karena dia ingin menguasa lada Banten. Apalagi letaknya dekat dengan Batavia. Pada tahun 1645 ditandatangani perjanjian VOC-Banten.
Tahun 1656 Banten menyerang Batavia dan kapal VOC dan memblokade pelabuhan. Konflik internallah yang mendorong Banten terpecah. Semua pemberontakan Trunojoyo, Sultan Ageng menyatakan diri berpihak kepada kaum pemberontak, mengirim amunisi pada mereka, serta menggganggu kapal VOC dan wilayah Batavia. Dia menulis surat pada Amangkurat II dan menuduhnya bukan orang muslim maupun Kristen. Melainkan orang VOC. Pemberontakan Trunajaya ini membuat istana Plered hampir dikuasai oleh trunajaya.
Berbicara tentang pelayaran VOC, di sini perlu disinggung sebentar mengenai kapal-kapal yang digunakannya. Masing-masing dari enam kamar mempunyai galangan sendiri di mana kapal-kapal dibangun dan dirawat. Jenis kapal yang paling disukai adalah retourschip yang dipergunakan untuk pelayaran dari Belanda ke perairan Asia dan kembali. Jenis kapal ini dapat dipakai sebagai kapal dagang maupun sebagai kapal perang. Namun demikian, banyak jenis lain yang dibuat dalam galangan-galangan tersebut : kapal-kapal yang lebih kecil seperti “yacht” dan “pinas” (bahasa Inggris: “yacht” dan “pinnace”) yang ikut melengkapi eskader VOC.
Keadaan antara VOC dan Banten agak tenang selama 30 tahun. Tetapi berubah ketika penguasanya Sultan Ageng Tirtayasa. Ia sering melakukan penyerangan ke Jakarta. Dan pada tahun 1656, kali kapal VOC dirampas oleh Banten sebanyak dua kali. Dalam tahun-tahun selanjutnya perdagangan di Banten maju pesat karena banyak pedangan luar antara lain Persia, Surat, Mekah, Koromandel, Benggala, dan Siam, serta Cina. Denmark dan Inggris juga membantu dalam perdagangan. Sehingga kondisi ini membahayakan Batavia. Kondisi ini berubah pada tahun 1676 ketika putra sulung Sultan Ageng, yaitu Sultan Haji datang dari Mekkah yang berpihak pada VOC. Pada tahun 1682, putranya telah melakukan perjanian dengan VOC sehingga yang berkuasa adalah VOC.
---
Disclaimer: @zhafiradnz personal archives.
Contribute to: @kawula_historia
Comments
Post a Comment